Robbymilana's Blog

Apa yang Anda lihat, belum tentu demikian adanya.

Kartinem

Posted by robbymilana on April 22, 2010

Perempuan separuh baya itu kelihatan tergopoh-gopoh mengiringi anak majikannya yang tampak terburu-buru. Kain batik yang dikenakan anak perempuan bermata sipit itu sudah berkali-kali membuat langkahnya terhuyung.

“Aduh, bi. Kenapa sih aku harus pake kain dan kebaya segala?”

Kartinem, sang pembatu rumah tangga, hanya tersenyum. Anak majikannya yang mirip boneka Cina tampak lucu di matanya.

“Bi, aku rasa kayaknya kita bakal telat.” Kata si anak bernama Mei Lan itu.

“Mudah-mudahan engga, non. Ini kan hari penting. Ada upacara di sekolah non Mei.”

“Kenapa harus ada upacara hari ini? Padahal ini bukan hari Senin?”

Kartinem tersenyum, “Ini kan tanggal 21 April, non. Hari ini seluruh masyarakat Indonesia merayakan hari Kartini.”

“Hari Kartini? Hari apa itu, bi?”

“Gini loh, non. Kartini itu salah satu pahlawan nasional yg dimiliki Indonesia. Dia katanya yang dulu berjuang membela kaum perempuan. Nah karena Kartini lahir tanggal 21 April, makanya dirayain pada setiap tanggal 21 April. Seperti hari ini.”

Bibir mungil Mei Lan terlihat membentuk huruf O. Kepalanya mengangguk-angguk perlahan, mengimbangi konde kecil yang dikenakan.

“Kok bibi tau?”

Kartinem mengangguk, “Bibi masih inget pelajaran sejarah waktu SMP dulu.”

Perjalanan menuju sekolah mulai tidak terlalu terasa melelahkan dengan pembicaraan yang hangat itu. Masih separuh perjalanan dari kompleks menuju sekolah.

“Bi, Kartini itu kan membela kaum perempuan Indonesia ya?”

“Iya, non. Betul.”

Tiba-tiba wajah Mei Lan menjadi murung. Kartinem heran melihat perubahan itu.

“Kenapa, non?” Tanya Kartinem.

“Apa aku boleh merayakan juga hari Kartini? Kata teman-teman, aku ini bukan orang Indonesia. Aku orang Cina. Padahal aku engga tau Cina itu dimana. Aku cuma tau Indonesia.”

Kartinem menatap Mei Lan sedih. Katanya, “Tentu non Mei boleh merayakannya. Non Mei juga warga Indonesia. Bibi mau tanya, boleh?”

Mei Lan mengangguk. Kartinem tersenyum. “Apa setiap kali upacara hari Senin saat bendera merah putih dikibarkan dada non bergetar?”

Mei Lan menatap Kartinem serius. Kedua bola matanya agak membesar. Lalu kepalanya mengangguk.

Kartinem tersenyum. Lalu tanyanya lagi, “Apa setiap kali non Mei denger lagu Indonesia Raya dada non juga bergetar?”

Sekali ini Mei Lan menjawab cepat, “Iya, bi. Kayanya ada rasa gimana gitu di dada aku.”

“Nah, itu artinya non Mei punya Indonesia, dan Indonesia punya non juga. Indonesia itu kan orangnya macem-macem. Ada yang kulitnya coklat, ada yang item dan ada yang kuning kayak non. Semua punya Indonesia.”

Wajah Mei Lan langsung cerah. Bibirnya yang mungil tersenyum merekah. “Benar, bi?”

“Benar, non. Masa bibi bohong.”

Mei Lan semakin lebar merekahkan senyumnya. Tp sejenak kemudian dia murung memandang pembantunya.

“Kenapa lagi non?”

“Kok bibi engga ikutan upacara?”

Kartinem tersenyum, “Bibi kan harus kerja bantu nyonya. non. Jadi engga sempet upacara. Kalo bibi upacara, nanti engga kerja. Kalo bibi engga kerja, lalu anak-anak bibi punya uang dari mana untuk sekolah? Anak-anak bibi juga harus jadi orang hebat yang bisa ikut membangun Indonesia.”

Mei Lan mengangguk-angguk sambil tersenyum..

Gerbang sekolah mulai terlihat. Anak-anak TK saling tergesa memasuki pintu gerbang bersama orang tua atau pendamping mereka. Semua berpakaian ala tradisional. Semua tampak sangat berwarna. Ditimpali senyum dan tawa-tawa mungil, Indonesia memang tampak indah dengan keanekaragamannya.

“Sudah sampe, non. Non masuk ya. Nanti siang bibi jemput. Non ga boleh pulang sebelum bibi jemput. Oke?’

Mei Lan mengangguk. Kartinem bru-buru membalikan badannya. Mungkin dia malu karena cuma dia yang berpakaian dekil dan tampak sangat….pembantu.

Baru dua langkah, Mei Lan memanggil. Kartinem berhenti dan menoleh. “Ada apa lagi, Non?”

Mei Lan menghampiri setengah berlari. Lalu melompat memeluk Kartinem.

“Aku sayang bibi…”

Mendadak air mata Kartinem meleleh. Diusapnya rambut Mei Lan dengan hati-hati. “Bibi juga sayang sama non.” Keduanya berpelukan selama beberapa detik. Lalu Kartinem meminta Mei Lan segera masuk sebelum bel berbunyi.

Pembantu itu menatap punggung anak majikannya yang semakin hilang terhalang kerumunan. Ditariknya nafas berat. Diusapnya air mata yang tadi sempat menetes.

Perempuan, siapapun dia, memang pantas dihormati dan dicinta. Air mata mereka, perjuangan mereka, dan kasih sayang mereka yang membuat warna negeri ini selalu indah.

Dan Kartini, pahlawan itu, mirip dengan Chairil Anwar yang meninggal muda karena mempertahankan cita-cita bangsa: “sekali berarti sudah itu mati.”

Kartini meninggal di usia 20-an namun namanya kekal abadi. Karena Kartini, perempuan seperti Kartinem mempunyai model ikutan untuk menjadi perempuan-perempuan yang kuat dalam pembangunan bangsa. Kartinem mungkin salah satu generasinya.

Lagu Ibu Kita Kartini terdengar sayup-sayup dari balik pagar sekolah TK. Kartinem tersenyum haru mendengar alunan lagu itu. Tangan-tangannya yang pecah-pecah karena keras bekerja mengepal kuat. Ada getar emosi yang mengalir kesana. Getar kehangatan perempuan Indonesia.

Selamat Hari Kartini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: