Robbymilana's Blog

Apa yang Anda lihat, belum tentu demikian adanya.

Orang Miskin Dilarang Sakit

Posted by robbymilana on April 16, 2010

Alkisah ada seorang petani yang jatuh sakit. Dia sakit karena terlalu lelah mencangkul tanah yang bukan miliknya dan menanam padi yang juga miliknya. Sebetulnya kalau begitu dia bukan petani, tapi buruh. Namun karena kriteria dia lebih memenuhi syarat sebagai petani, maka disebutlah dia sebagai petani.

Konon katanya petani itu terserang typus, yakni sejenis penyakit yang terjadi salah satunya karena terlalu lelah bekerja. Sekujur badannya panas dan linu. Istri dan anaknya tentu bersedih. Bukan saja karena dia sakit, tapi juga karena cuma dia tulang punggung keluarga yang mencari nafkah.

Atas anjuran tetangga, dibawalah dia ke rumah sakit terdekat oleh isterinya. Karena menurut si tetangga typus tidak bisa disembuhkan oleh obat tradisional dan perlu perawatan yang intensif. Tiba di rumah sakit, keduanya bingung harus kemana. Seorang petugas rumah sakit menghampiri. Kata petugas itu pak petani harus mendaftar dulu kemudian membayar biaya pendaftaran. Pak petani dan isterinya saling pandang. Bukan diobati dulu? Tanya mereka dalam hati.

“Berapa kami harus bayar?”, Tanya si isteri kepada petugas.

Dengan acuh tak acuh si petugas menjawab, “Biaya pendaftaran Rp 100.000. Tunai!”

Keduanya kembali saling pandang. Pak petani mengeluarkan uang dua puluh ribu dalam bentuk receh.

“Kami cuma punya segini.” Kata si petani sambil menyodorkan uang yang kumal dan lecek.

Petugas rumah sakit itu memandang sekilas dengan raut muka jijik lalu menggeleng dan akhirnya membuang muka. Untunglah petugas yang berkelamin perempuan itu menggunakan bedak sangat tebal, sehingga mukanya yang dibuang tidak sampai jatuh kelantai karena telah dilengketi bedak.

Petani dan isterinya mengambil uangnya kembali lalu melangkah pulang. Lantai marmer yang berkilat mengantar kepulangan mereka dengan kilap angkuh. Pak tani melangkah sambil tertunduk. Sakit yang menyergap sekujur badannya sejenak hilang. Kini yang terasa sangat sakit adalah hatinya.

Belum jauh mereka pergi, sebuah mobil angkot masuk dengan cepat. Di depan pintu rumah sakit angkot itu berhenti. Tampak seorang sopir tergesa-gesa menurunkan seorang korban tabrak lari. Darah berlumuran di wajah korban. Sopir segera meminta bantuan kepada petugas.

Petugas yang berdandan medok berseragam putih-putih tadi menghampiri, membawakan ranjang besi yang terbungkus jok.
Ranjang didorong oleh petugas tidak langsung ke ruang UGD, namun parkir di depan loket pendaftaran. Sopir tadi bengong. Dia bertanya kenapa tidak langsung dibawa ke ruang UGD. Kondisi korban sudah sangat mengkhawatirkan. Dengan tenang petugas itu menjawab, “Pasien harus mendaftar terlebih dahulu dan membayar.” Sopir itu melotot.

Tapi dengan sigap si sopir meraih handphone genggamnya yang murahan dan menelphone nomor yang tadi di dapatnya dari si korban sebelum jatuh pingsan. Setelah berbicara sekitar 15 menit, sopir itu menghampiri petugas rumah sakit dan mengatakan bahwa korban akan ditanggung oleh perusahaan. Semua biaya rumah sakit dan pengobatan ditanggung penuh. Petugas tadi menatap curiga. Lalu tanyanya, “Perusahaan apa?”

Si sopir menjawab, “PT. Kaya Raya Makmur Jaya.”

Kedua mata petugas itu melotot. Wajahnya tiba-tiba berseri. Dengan segera dia membawa korban ke ruang UGD dan melayaninya sepenuh hati. Dengan perasaan gegap gempita petugas itu merawat korban dengan tersenyum lebar. Sopir tadi memperhatikan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Moral yang sangat mengerikan, gumam si sopir.

Dulu, dalam lagu Ambulan Zig Zag, Iwan Fals pernah menyindir tentang mahalnya biaya rumah sakit. Bukan hanya itu, Iwan juga mengemukakan fakta bahwa nilai kemanusiaan bagi rumah sakit begitu kecil dibandingkan nilai ekonomis. Moral materialistik menguasai rumah sakit yang seharusnya melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Menurut Iwan, pihak rumah sakit kerap meremehkan dan tidak mengacuhkan pasien yang datang dari golongan miskin.

Kesehatan itu mahal. Tapi jatuh sakit tentu lebih mahal. Apalagi jika menyangkut persoalan harga diri. Permasalahannya sebetulnya bukan pada kemampuan atau ketidakmampuan pasien untuk membayar biaya pengobatan dan perawatan. Permasalahannya adalah pada kemauan (will) pihak rumah sakit untuk bersedia memandang manusia sebagai manusia dan melayani mereka dengan tulus.

Dalam salah satu seminar yang mengangkat isu-isu kemanusiaan dan problem sosial seorang pembicara mengatakan, “Ini fakta bahwa rumah sakit dijalankan dengan biaya yang besar, obat-obat yang semakin mahal dan administrasi yang memerlukan uang yang banyak. Karena itu sangat realistis jika pihak rumah sakit meminta bayaran dari setiap pasien yang datang.”

Pembicara yang lain mengatakan, “Wajarlah jika sejak masuk pasien sudah dimintakan biaya. Hal ini untuk kepentingan si pasien sendiri.”
Di negeri yang katanya kaya raya ini, kenyataannya masih banyak masyarakat yang tidak mampu mengeluarkan biaya rumah sakit. Tapi siapa sih yang mau jatuh sakit. Tidak ada orang yang mau jatuh sakit, apalagi dengan mengeluarkan biaya yang mereka tidak mampu menjangkaunya. Selain tidak mau sakit, semua orang juga tidak mau diperlakukan tidak adil. Rupanya benar kata seorang intelektual yang perduli terhadap masalah sosial bahwa di rumah sakit, yang sakit bukan hanya pasien, tapi juga pengelola rumah sakit.

Akhirul kalam, jika Anda orang miskin cobalah sekuat tenaga untuk tidak sakit. Kalau pun terpaksa sakit, janganlah sakit yang membahayakan. Cukup panu, kadas, kurap atau korengan saja. Karena jika Anda sakit berat dan perlu ke rumah sakit, bacalah di depan pintunya, “Orang Miskin Dilarang Sakit!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: