Robbymilana's Blog

Apa yang Anda lihat, belum tentu demikian adanya.

Manakah Sekolah Untuk Kami

Posted by robbymilana on April 16, 2010

Satu tahun yang lalu dua buah gedung sekolah baru dibangun di sekitar pinggiran Jakarta. Gedung yang pertama merupakan sebuah gedung yang sangat bonafid. Bahan bangunannya mewah. Dindingnya terbuat dari bata merah kokoh yang di bungkus dengan semen dan pasir mahal membentuk gaya minimalis dengan cat khas hotel-hotel bintang lima. Ruang-ruang kelasnya sangat nyaman dengan pendingin ruangan (AC) di sana sini. Saking kerennya, gedungnya bertingkat lima ke atas dan lima ke bawah. Bahkan di toiletnya terdapat eskalator canggih agar para siswa dapat buang air dari lantai ke lantai.

Hari ini sekolah itu sudah beroperasi. Saat hari pendaftaran, jalan di sekitar menjadi macet karena mereka yang hendak mendaftar memarkir mobilnya sampai ke pinggir jalan. Lapangan parkir seluas tiga hektar sudah penuh. Karena itu di pinggir jalan juga tampak terlihat para supir pribadi yang sedang kongkow sambil mengopi atau main catur.
Ketika bel pulang berbunyi, jalan di sekitar sekolah itu lebih macet lagi. Anak-anak berkulit bersih dan beraroma harum berhamburan menuju kendaraan masing-masing yang berharga ratusan juta rupiah. Rata-rata mata mereka sipit. Tapi banyak juga yang berkulit hitam, namun bersih mengkilat seperti kulit manggis terkena mentega.
Walau jalan menjadi macet, tapi tidak ada yang mengeluh. Malah sebagian pengguna jalan tampak terkagum-kagum.

“Anak SD pulang saja mobilnya sampai berjejer begini,” ucap salah seorang pengguna jalan yang kebetulan lewat.

Polisi yang mengatur lalu lintas pun tak henti-hentinya melebarkan senyuman.

“Motto kami,” ungkap salah seorang guru di sekolah itu saat diwawancarai oleh sebuah media cetak terkenal, “adalah menjadikan para generasi muda ini menjadi cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual. Karena itu kami lengkapi fasilitas untuk mereka seoptimal mungkin. Metode mengajar kami juga sangat modern, dimana guru hanya bertindak sebagai fasilitator, dengan kurikulum yang paling mutakhir.” Saat di Tanya berapa biayanya, dia menjawab, “Biaya bukan hal yang dominan. Pendaftaran di sekolah ini cuma 30 juta persiswa dan biaya SPP sebesar 750 ribu perbulan.” Luar biasa!

Sementara itu gedung sekolah yang kedua bangunannya tampak aneh. Dibilang sudah jadi, tapi tampak miring. Dibilang belum jadi tapi sudah beroperasi. Bahan bangunannya terbuat dari campuran berbagai macam bahan. Sebagian ada bata putih, sebagian ada triplek. Semua dicampur jadi satu. Plafonnya dari dus bekas yang dicat warna-warni agar tampak bagus, tapi malah norak. Luas seluruh bangunan sekitar lima ratus meter persegi. Berlantai dua. Tapi jika hendak naik ke lantai dua harus berhati-hati karena tangganya merupakan tangga kayu pohon kelapa yang sudah lapuk. Ruang kelasnya kurang nyaman. Meja dan kursinya adalah kayu-kayu yang lebih layak dibakar untuk dijadikan arang daripada digunakan untuk belajar. Tapi ruangannya lumayan sejuk karena sebagian dindingnya tak berjendela. Terkadang ada ayam yang suka masuk lewat sana untuk bertelur di bawah papan tulis yang warnanya nyaris hitam muda!

Para siswanya golongan akar rumput, yakni mereka yang jika berada dalam grafik balok pendapatan, gambar pendapatannya sama rata dengan garis horizontal. Tapi mereka tampak gemuk-gemuk; perutnya buncit cacingan, kulitnya tebal berdaki.

Seorang siswi perempuan dan seorang siswa laki-laki sedang bermain di taman sekolah saat jam istirahat. Tapi mengherankan. Meski dinamakan taman, namun cuma ada sebuah pohon petai cina saja di situ. Tidak ada rumput Jepang atau bunga-bunga indah. Di bawah pohon terlihat segerombolan kambing yang sedang berteduh dari panasnya matahari. Kedua siswa tadi saling terkikik. Yang laki-laki mencoba menggoda yang perempuan. Yang perempuan acuh tak acuh sambil menarik ingusnya yang hampir meleleh ke bibir.

Saat para siswa dari sekolah miskin itu pulang, jalanan menjadi agak padat karena semua siswa berjalan bersama-sama menuju rumah sampai memenuhi badan jalan. Tidak ada mobil jemputan yang menunggu. Semua berjalan kaki. Ada yang harus berjalan sejauh 2 kilometer untuk menuju rumahnya. Seorang siswi yang berada di antara gerombolan itu berjalan terpincang-pincang. Sepatu yang digunakannya adalah sepatu yang dia sudah pakai sejak tiga tahun lalu sehingga telah robek-robek. Ibu jarinya mengintip dari ujung sepatu. Panasnya aspal menggigit kaki mungilnya yang berdebu. Seorang polisi membentak galak saat ada salah seorang siswa yang bercanda agak ke tengah jalan.

“Emang ini jalan bapak moyang kamu!”, bentak Pak polisi.

Si anak diam saja sambil meneruskan langkahnya. Candanya yang tadi tiba-tiba hilang. Dalam hati dia bilang, “Emang ini bukan jalan bapak moyang saya. Tapi yang jelas juga bukan jalan milik bapak moyang Anda, pak polisi.”

“Motto sekolah kami,” kata salah seorang guru di sekolah itu, “Adalah bagaimana para siswa dapat bersekolah. Kami tidak menjanjikan apa-apa kepada mereka. Fasilitas kami terbatas. Tenaga pengajar kami terbatas. Metode pengajaran dan kurikulum kami pun sangat sederhana. Tapi kami berusaha seoptimal mungkin agar mereka dapat pintar. Minimal mereka bisa lulus dan mendapat ijazah. Karena di negara kita ijazah lebih dihargai dibanding kualitas manusianya.” Saat ditanya berapa biaya untuk masuk ke sekolah itu, guru tadi menjawab, “Kami tidak mematok harga. Silahkan saja semampu orang tua murid. Malah ada yang cuma membayar dengan bawang pun kami terima.”

Yang menjadi pikiran adalah, para siswa yang jumlahnya sangat banyak di Indonesia ini justru berada di sekolah-sekolah seperti sekolah miskin itu. Padahal sejujurnya mereka tentu ingin sekolah dengan fasilitas yang bagus agar mereka menjadi pintar dan berprestasi. Namun untuk bersekolah di sekolah yang serba lengkap dan bagus tentu mereka tidak akan mampu membayar biayanya. Sedangkan jika sekolah di tempat seadanya, maka mereka akan banyak tertinggal dengan kualitas yang rendah. Lalu tak adakah sekolah yang layak untuk sebagian besar generasi di negeri ini?

Nanti, saat mereka hidup dalam dunia bisnis yang semakin menuntut persaingan bebas, mereka tentu akan tersingkir oleh anak-anak yang dari sekarang memang sudah dijamin oleh fasilitas-fasilitas hidup yang memuaskan. Maka mereka, anak-anak akar rumput ini, akan terus mewariskan kemiskinan mereka. Padahal, kemiskinan telah mereka wariskan selama tujuh turunan tujuh tanjakan. Sampai sekarang dan nanti sepertinya belum akan berubah.

Suatu kali salah seorang siswa dari sekolah miskin tadi yang bernama Sudirman membuat puisi pada acara peringatan HUT RI. Dia bilang dalam salah satu bait puisinya: “Berilah kami sedikit kesempatan. Kesempatan untuk sekedar menjadi bagian dari dinar kemanusiaan. Kesempatan untuk sekedar dianggap sebagai manusia yang layak diperhatikan!”

Puisi Sudirman mendapat banyak tepukan hangat, namun hanya dari kalangan itu saja. Bukan dari para pemangku kebijakan atau dari para pemilik modal. Kalau demikian, sekolah memang hanya seperti tempat bisnis sebagaimana bisnis biasanya. Dan ini merupakan kenyataan yang sangat getir…

Siapa yg mampu menjawab saat para siswa itu bertanya, “Manakah sekolah untuk kami…?”

Kita hanya bisa diam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: