Robbymilana's Blog

Apa yang Anda lihat, belum tentu demikian adanya.

Teori Media dan Masyarakat

Posted by robbymilana on April 15, 2010

Selama beberapa dekade sering dikatakan bahwa media memiliki kekuatan dalam membentuk opini publik. Media bukan saja dapat membentuk “worldview” masyarakat, namun juga mampu menciptakan kesadaran dan keyakinan individu akan realitas; sebuah realitas yang telah didefinisikan oleh media. Media telah memberi efek yang kuat dan langsung kepada audience (market). Namun benarkah media memiliki kekuatan dan pengaruh yang demikian besar?

Artikel berikut mencoba menelaahnya melalui tiga pendekatan untuk membuktikan apakah media memiliki kekuatan dan pengaruh dalam memberikan efek yang langsung dan kuat kepada masyarakat dan individu. Tiga pendekatan yang akan penulis uraikan berikut disarikan dari Katherine Miller, yakni Teori Agenda Setting, Teori Spiral of Silence dan Teori Cultivation.

Teori Agenda Setting
Munculnya Teori Agenda Setting merupakan respons terhadap beberapa teori yang telah ada sebelumnya. Bagi teoritisi Agenda Setting, teori-teori sebelumnya yang banyak berkiblat pada paradigma Magic Bullet, terlalu terpengaruh pada situasi perang dunia II dan pola media di masa kejayaan Hitler. Magic Bullet menganggap bahwa media mempunyai pengaruh yang besar dan efek langsung pada audience yang menjadi komunikan. Ini mirip dengan orang yang melepaskan tembakan; ketika senjata meletus, maka pelurunya langsung mengenai sasaran. Ini artinya paradigma Magic Bullet menganggap bahwa media dapat secara langsung membuat orang meyakini sebuah realitas ketika realitas itu ditampilkan media.

Menurut Cohen, salah seorang teoritisi Agenda Setting, faktanya media tidak selalu berhasil untuk membuat orang langsung meyakini sebuah realitas. Tapi media mampu membuat orang sadar akan realitas itu. Orang tahu (sadar) akan sebuah realitas, tapi belum tentu percaya (yakin) pada realitas itu secara langsung. Dalam bahasa Cohen, media lebih berhasil mengajak “what to think about”, daripada mengajak “what to think.”

Teori-teori Agenda Setting kemudian memberi banyak pengaruh kepada para teoritisi dan peneliti media massa sesudahnya. Namun sebenarnya apa yang dimaksud dengan Teori Agenda Setting?

Ada dua cara untuk mengetahui Agenda Setting, yakni dalam definisi luas dan sempit. Pertama, dalam definisi yang luas Agenda Setting berhubungan dengan tiga agenda yang saling berhubungan dalam teori-teorinya yakni agenda media, agenda publik dan agenda kebijakan pemerintah. Agenda media adalah seperangkat topik atau isu yang dibahas oleh media (televisi, radio, koran, dan lain-lain). Agenda publik adalah seperangkat topik atau isu yang dianggap penting oleh publik. Sementara agenda kebijakan merupakan topik atau isu-isu yang diyakini oleh para pembuat keputusan (DPR atau mereka yang berpengaruh dalam proses legislasi) sebagai isu yang menonjol. Kedua, Agenda Setting dalam definisi yang sempit adalah proses dimana berita media menuntun publik dalam menetapkan hal-hal penting yang bersifat relatif untuk melihat beragam isu publik. Agenda Setting mempengaruhi publik bukan dengan mengatakan “isu-isu ini penting” secara terang-terangan, namun lebih dengan memberikan ruang dan waktu kepada publik untuk menganggap isu-isu itu penting.

Masing-masing dari tiga agenda dalam definisi luas Agenda Setting merupakan variabel yang terpisah dan dependen, namun saling memiliki hubungan. Meski ada yang mengatakan bahwa agenda media yang mempengaruhi munculnya agenda publik atau sebaliknya, tapi kesimpulan yang muncul setelah penelitian McCombs dan Shaw’s menggarisbawahi bahwa agenda media dan agenda publik memiliki hubungan yang lebih bersifat resiprokal atau timbal balik. Kemudian kedua variabel agenda tersebut akan diikuti oleh variabel agenda kebijakan.

Dalam topik terorisme, misalnya, media Amerika menampilkan beragam aktivitas terorisme. Publik menganggapnya sebagai topik yang penting. Media mengakomodir pandangan publik itu dengan menampilkan hal-hal yang berhubungan dengan terorisme secara lebih luas. Karena dua agenda ini berhubungan kuat dan memunculkan efek, maka pemerintah Amerika (agenda kebijakan) mengeluarkan kebijakan luar negerinya (seperti munculnya kebijakan mengenai keamanan dalam negeri dan kebijakan perang terhadap Afganistan dan Irak).

Namun dari penjelasan tersebut di atas justru terlihat bahwa agenda media dalam Teori Agenda Setting lebih dominan perannya dibanding agenda publik. Dalam pengertian, agenda media mempengaruhi agenda publik untuk menganggap isu apa yang penting. Media menata (men-setting) sebuah agenda terhadap isu tertentu sehingga isu itu dianggap penting oleh publik yang salah satunya karena isu tersebut berhubungan dengan kepentingan publik, baik secara langsung atau tidak. Caranya, media dapat menampilkan isu-isu itu secara terus menerus dengan memberikan ruang dan waktu bagi publik untuk mengkonsumsinya, sehingga publik sadar atau tahu akan isu-isu tersebut, kemudian publik menganggapnya penting dan meyakininya.
Kritik yang kemudian muncul terhadap Teori Agenda Setting adalah; Pertama, Agenda Setting lebih tepat dikatakan sebagai sebuah “model” dibanding sebagai sebuah “teori.” Agenda Setting dikategorikan ke dalam teori Post-Positivis. Dan meskipun mengatakan bahwa agenda media dan agenda publik mempunyai hubungan yang bersifat timbal balik, pada kenyataannya Agenda Setting “mengakui” bahwa agenda media merupakan sebab munculnya agenda publik sebagai sebuah keniscayaan. Ada ambiguitas dari Agenda Setting mengenai efek yang dapat dimunculkan oleh media. Namun demikian, Agenda Setting juga dipuji memiliki akurasi dan kemampuan dalam memprediksikan efek media dalam masyarakat.

Teori Spiral of Silence
Setelah melihat fenomena polling masyarakat mengenai dua partai besar peserta pemilu di Jerman pada masa Perang Dunia II, Christian Democrats Party dan Social Democrats Party, Noelle-Neumann memformulasikan sebuah teori yang disebut Teori Spiral of Silence, sebuah teori yang menurutnya melingkupi semua teori mengenai opini publik yang berhubungan dengan proses tidak seimbang dari psikologi masyarakat, komunikasi interpersonal dan media massa.

Untuk menjelaskan teorinya, Noelle-Neumann berangkat dari asumsi akan adanya ketakutan dari individu-individu akan isolasi dari masyarakat. Ketakutan itu muncul jika individu-individu mempunyai opini yang berbeda bahkan berseberangan dengan opini mayoritas masyarakat. Individu yang opininya berbeda dengan mayoritas masyarakat akan cenderung bungkam (silence) karena takut akan isolasi yang mungkin diterimanya.

Secara sosiologis, teori Spiral of Silence mengakui bahwa ketakutan individu akan isolasi ini hanya berlaku pada masyarakat kurang terdidik dan miskin, irasional, dan tidak memiliki dedikasi untuk mengemukakan pendapatnya secara bebas dan bertanggung jawab.
Bagaimana peran media?

Noelle-Neumann dalam hal ini justru menyalahkan media yang dianggapnya banyak menimbulkan “ketidakperdulian plural”. Menurutnya, media massa mempengaruhi penilaian-penilaian individu pada opini publik karena media bersifat abigu. Gambaran yang ditampilkan media juga mempengaruhi kesadaran individual untuk membentuk opini publik dan kadang-kadang memberi ketidakakuratan dalam iklim publik.

Jika ditelaah lebih jauh, teori yang dikemukakan Noelle-Neumann, sebagaimana yang dikritik oleh beberapa pakar, sangat bias dengan teori kritis kelompok kiri dimana individu ditindas oleh semacam “tirani mayoritas”, yakni masyarakat luas. Dan media, pada suatu waktu, ikut mendukung tirani itu.

Teori Cultivation
Berbeda dengan dua teori di atas yang memusatkan perhatian pada efek yang ditimbulkan oleh beragam jenis media, maka Teori Cultivation lebih terkonsentrasi pada satu jenis media, yakni televisi. Selain itu teori ini juga berbeda karena memperdiksikan dampak tidak langsung pada cara berpikir masyarakat mengenai isu-isu tertentu.
Teori ini menghadirkan gambaran media yang lebih sempit pada televisi dan sekaligus lebih luas dengan berkonsentrasi pada efek konstruk sosial.
Asumsi awal teori ini adalah anggapan bahwa televisi merupakan media unik yang mampu memberikan efek dasyat kepada penontonnya. Bukan hanya itu, televisi bahkan telah menjadi “way of life” yang kehadirannya tidak dapat dibantah oleh ruang dan waktu. Pesan-pesan di televisi membentuk sistem yang koheren, yang merupakan mainstream dari sebuah budaya.

Sifat alamiah televisi adalah menghadirkan pandangan dunia yang koheren melalui jenis-jenis program dan waktu. Waktu menjadi kata kunci. Setiap orang dapat menonton program-program secara tidak selektif, dapat memilih program apa saja yang kemungkinan juga ditonton oleh pemirsa lain; perbedaannya adalah pada seberapa banyak waktu yang disediakan oleh masing-masing individu untuk menonton. Sifat alamiah televisi ini berbanding sejajar dengan perannya untuk menumbuhkan (cultivate) pandangan penonton mengenai realitas dalam jangka panjang. Dan umum diketahui bahwa televisi menghadirkan realitas yang sering berbeda dengan realitas sebenarnya.

Dalam penelitian Garbner mengenai konten televisi ditemukan bahwa televisi juga masih mengalami salah intepretasi terhadap persoalan etnis (lebih banyak menghadirkan bangsa kulit putih dibanding kulit hitam atau etnis lain), jenis kelamin (lebih banyak menampilkan laki-laki daripada perempuan), usia (lebih banyak menampilkan usia sedang) dan kelas (lebih banyak menampilkan masyarakat kelas menengah).

Di samping itu, dalam konteks sosio-kultural, televisi juga menampilkan banyak hal yang berbeda dengan realitas. Adegan kekerasan yang ditampilkan televisi, misalnya, sepuluh kali lebih banyak dibanding kejahatan dalam dunia nyata.

Kesemua itu merupakan nilai-nilai yang dibawa televisi. Dan nilai-nilai itu memberi efek yang maksimal pada para penonton, yang bersifat jangka panjang dan kumulatif. Keberpihakan terhadap budaya mainstream dan homogenitas penonton (kesamaan sosial, kultural dan demografis) nyatanya juga menjadi nilai-nilai televisi untuk secara efektif dalam menanamkan “worldview” ke dalam benak masyarakat.

Kesimpulan
Ketiga teori di atas meski mengklaim menolak peran dan pengaruh yang kuat dari media yang mampu memberi efek langsung pada masyarakat dan individu, namun nyatanya ketiga teori itu mengakui bahwa media mempunyai pengaruh yang kuat dalam memberikan efek langsung kepada audiensnya, terutama Teori Cultivation.
Teori Agenda Setting melakukan penelitian secara luas kepada berbagai macam jenis media, baik cetak maupun elektronik. Teori ini berangkat dari asumsi bahwa media lebih menekankan untuk membangun kesadaran audiens akan sebuah isu atau realitas, bukan membangun keyakinan akan isu atau realitas itu.
Teori Spiral of Silence lebih spesifik melakukan penelitian terhadap polling, baru kemudian berangkat kepada media secara umum. Teori ini menyatakan bahwa setiap individu (dengan kriteria tertentu) pada dasarnya takut untuk mengungkapkan opininya jika opininya itu berbeda dengan mayoritas opini masyarakat. Ketakutan itu adalah ketakutan akan diisolasi. Media, dalam pandangan teori ini, justru memiliki peran yang mendukung budaya popular masyarakat atau opini mayoritas. Media bersifat ambigu.
Sementara Teori Cultivation secara spesifik melakukan penelitian hanya kepada media televisi. Menurut teori ini, televisi mampu memberikan efek yang luar biasa kepada penontonnya. Televisi bahkan dianggap telah menjadi “way of life” yang kehadirannya selalu mempertimbangakan ruang dan waktu secara cermat. Efek yang dimunculkan televisi kepada individu dan masyarakat bersifat maksimal dalam jangka panjang dan akumulatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: