Robbymilana's Blog

Apa yang Anda lihat, belum tentu demikian adanya.

Multiple Choice

Posted by robbymilana on April 15, 2010

Saya memperhatikan para siswa yang sedang mengikuti ujian. Satu persatu saya tatap ekspresi mereka. Ada yang santai (mungkin karena tidak terlalu perduli dengan ujian yg sedang diikuti), ada yang tegang (mungkin karena berharap mendapat hasil bagus namun merasa sulit mengerjakan soal) dan ada yg tenang (mungkin karena yakin bisa mengerjakan soal-soal). Dari 50 soal, semuanya berbentuk multiple choice atau pilihan ganda.

Sambil mengawasi, kadang seringkali saya mencoba menterjemahkan kenapa soal pilihan ganda mesti menjadi “modul” utama dalam soal-soal ujian siswa sekolah? Jawaban saya: (1) Untuk memudahkan para siswa menjawab pertanyaan, (2) Para pembuat soal tidak kreatif, atau (3) epidemi budaya menghafal akut yg telah menjadi tradisi dunia pendidikan negeri ini.

Untuk jawaban terakhir, saya merasa sangat terganggu. Saya berkesimpulan: belajar di sekolah hanya menekankan kemampuan menghafal! Ini berbahaya, karena menghafal kemudian diasumsikan oleh para siswa sebagai kegiatan belajar itu sendiri. Padahal, dalam belajar masih banyak unsur lain selain menghafal, yakni menganalisa, problem solving, membuat prediksi dan menarik kesimpulan.

Yang lebih memprihatinkan, sekalipun ada soal isian, siswa tetap tidak boleh memberikan jawaban sesuai dengan kemampuan pemahaman mereka. Siswa dipaksa untuk menjawab soal sesuai dengan definisi yang sudah tertera dalam buku atau sesuai dengan definisi yg diberikan oleh guru (text book). “Tidak boleh berbeda sedikit pun!”, demikian perintah para guru. Ini konvensional dan tentu sangat tidak arif jika tujuannya adalah untuk mencerdaskan generasi bangsa.

Para siswa Indonesia berkali-kali mengikuti ajang tes internasional seperti terlibat dalam Programme for International Student Assesment (PISA) di bidang membaca, matematika dan sains; Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) untuk bidang membaca; dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dalam bidang matematika dan sains. Hasilnya: kemampuan siswa Indonesia berada di bawah standar internasional dalam melakukan analisis, prediksi dan membuat kesimpulan.

Karenanya saat menatap soal ujian berbentuk soal isian, siswa mengalami banyak sekali kesulitan. Nyontek jadi alternatif yg sangat menggiurkan. Dan jika para siswa mencontek, yakinlah bahwa sistem pendidikan yang diterapkan telah gagal!

Belum lagi persoalan juga muncul pada proses KBM (kegiatan belajar mengajar). Persoalan datang dari kurikulum (lihat saja para siswa yg setiap hari harus terbungkuk-bungkuk membawa begitu banyak buku yang pelajarannya tidak sedikitpun mereka pahami dan memang kurang penting dalam pilihan siswa), metode para guru ketika mengajar (umumnya bersifat ceramah dan sentralistik, yakni semua “kebenaran” hanya datang dari guru) dan yang terakhir tentu saja budaya menghafal itu sendiri.

Saat saya masih menjadi pengajar, saya pernah menentang sistem pendidikan di sekolah tempat saya mengajar yang hingga kini masih terus ditradisikan. Namun memang sia-sia menentang arus yg sangat besar. Karena itu saya mengambil alternatif lain: memberikan wawasan di luar jam sekolah; ketika ekskul, OSIS atau kegiatan siswa lain. Saya mencoba memfasilisasi para siswa untuk sekedar mencicipi dunia diskusi, jurnalistik sederhana (yg keluarannya adalah melalui Mading), penelitian kecil-kecilan, pidato, bahkan saya mencoba mengukur kemampuan para siswa SMP dengan pengetahuan yg agak berat seperti psikologi, sosiologi, politik bahkan filsafat. Dengan heran saya mengetahui sebuah fakta bahwa mereka sangat mampu! Kuncinya adalah memotivasi, memberi kepercayaan, memberi keleluasaan dan yg pasti memberi PENGHARGAAN. Filsafat yg dianggap sangat melelahkan dan menakutkan ternyata dipahami oleh para ABG SMP itu dengan sangat lancar. Saya bengong. Padahal materi filsafat pernah saya pelajari dan baru saya pahami selama 2 semester waktu kuliah.

Namun sayangnya, ketika menghadapi UAN, mereka tetap tersiksa. Ada yg bertanya kepada saya: “kenapa dari sekian banyak pelajaran yg kami pelajari selama 3 tahun hanya 4 mata pelajaran yg diujiankan dan 4 itu yg menentukan nasib kami?” Saya tersenyum getir, tidak menjawab. Kepala saya seperti ditempeleng dari atas oleh pertanyaan itu.

Dan saat mendekati UAN, para siswa yg memang sudah “muak” dengan santainya menjawab ketika saya bertanya: “Sudah siap UAN?” Mereka menjawab, “Tenang, Sir. Soal-soalnya pilihan ganda kok. Insya Allah dengan gambling kami siap!!!”

Memilukan bukan?

2 Responses to “Multiple Choice”

  1. ade rossa said

    Entah pembenahan pendidikan di Indonesia harus di mulai dari mana dulu, karena begitu banyak yang harus di ubah atas dasar kesadaran semua lembaga dlm pemerintahan yang menangani masalah pendidikan. Begitu juga dengan orang tua yang sebagai pendidik 1×24 jam ini yang lebih merupakan produk dr budaya pendidikan diindonesia yang juga mengajar dengan pola yang sama “menghafal” memang sangat di butuhkan tetapi dengan lebih dulu membuat mengerti peserta didik akan maksud dr apa yang di hafal sehingga bermanfaat sebagai landasan ia berfikir makna belajar itu apa, merasakan manfaat dr yang dihafal itu untuk bahan dan modal dia menjadi out put yang mampu dalam how to live together dikehidupan nyata terjun kemasyarakat.
    Metode ceramah yang juga sangat bahaya bila terus dipertahankan, karena selain menjemukan, membuat anak pasif dan tidak berfikir, juga hal terparahnya adalah melanggar fitrah anak atau peserta didik yang terlahir dengan potensi unik yang berbeda satu dengan lainnya, sudah saatnya harus meninggalkan metode ceramah dan mulailah dengan menerapkan child center, jangan pernah menganggap anak itu gelas kosong, karena mereka terlahir sdh dengan potinsi unik yang akan bisa di gali dan dimatangkan dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya baik di sekolah maupun di rumah sehingga a set of treatment lebih ke arah pemahaman untuk kesimpulan dan resolusi buat masalah yang dihadapai oleh peserta didik, menjadi potensi unik yang selalu aktif dan mengerti bahwa kehidupan itulah adalah belajar sesungguhnya.
    Mengenai UN, menurut saya yang pernah mengikuti seminar pendidilkan di LPMP yang diselenggarakan lembaga pendikan pencetak guru, menyaran pada kelemahan-kelemahan UN itu sendiri yang cukup merugikan dan dirasa ketidak adilannya, diantaranya (1)Menghamburkan uang negara, karena memerlukan anggaran cukup besar, (2)Anak menjadi kurang perhatian terhadap mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN, padahal semua pembelajaran disekolah saling melengkapai untuk tujuan Out put yang dewasa pikir, (3)Kemampuan dan potensi anak disamaratakan dengan mata pelajaran yang ditentukan dalam UN, (4)Tidak adil karena penilaian yang diambil sebagai penentuan kelulusan dan nasib peserta didik selanjutnya ditentukan hanya dengan kemampuan anak selama 3 hour UN, sedangkan autentic assesment adalah oleh guru kelas selama mengikuti proses KBM, (5)Tidak adil karena soal yang diujikan antara anak yang tinggal di kota dengan di desa disamakan, sedangkan mulai dr SDM, gizi, lingkungan saja sudah berbeda, pemerataan tenaga pendidik saja belum tampak penyelesaiannya.
    Menurut saya, perubahan metode pembelajaran harus menjadi wacana utama pemerintah karena segala aspek kehidupan seperti ekonomi dan kriminalitas merupakan imbas dr pendidikan yang salah atau tidak dimengerti anak. Sebaiknya UN di tiadakan atau boleh diadakan tetapi tidak dijadikan penentu tunggal dalam keleulusan selama dia mengikuti proses pembelajaran. Tugas kita semua merubah sudut pandang pendidikan dan caranya yang terpenting, memingat kita pun produk budaya pendidikan yang sudah berjalan di Indonesia.
    Peran orang tua sangat di butuhkan atas pembedaan mana saat mendidik dan mana saata mengajar, mendidik merupakan upaya sadar dalam mendampingi peserta didik 1×24 jam untuk mencapai cita2, impian, mengikuti tumbuh kembang anak dengan pengayaan asah potensi unik dan membuat mereka aktif berekspresi mengapresiasi hasil pembelajarannya disekolah, sedangkan mengajar adalah memberikan materi pelajaran dan IPTEK untuk kelengkapan anak menapaki jenjang usia dan pemikirannya… Ciptakan budaya aktif dalam metode pembelajaran Indonesia…

    • Thanks to Rossa (mudah2an ga salah nyebut nama).
      Ada begitu banyak hal dan banyak pihak yg harus dievaluasi dalam pendidikan di Indonesia. Jangan2 kita sebagai masyarakat pun perlu dievaluasi. Masukan2, kritik konstruktif dan gagasan2 perlu terus disebarkan di tanah air. Memang belum tentu masukan, kritik dan gagasan2 tsb akan didengar apalagi diakomodir menjadi sebuah kebijakan. Namun paling tdk, sbg generasi penerus kita akan memiliki visi yang sama: turut membangun wajah baru pendidikan Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: