Robbymilana's Blog

Apa yang Anda lihat, belum tentu demikian adanya.

Budaya Popular

Posted by robbymilana on April 15, 2010

Pengantar
Budaya adalah cara hidup, pandangan dan nilai-nilai. Memperlajari tentang budaya berarti mempelajari tentang bahasa, komunikasi dan elemen-elemen budaya lain. Namun lebih dari itu budaya dalam dunia kita sekarang hampir selalu berhubungan dengan trend dan tindakan-tindakan dari hal yang popular. Budaya popular umumnya dipahami sebagai budaya yang merepresentasikan gugatan terhadap cara hidup masyarakat sebelumnya yang dianggap tidak popular. Budaya popular adalah apa yang kita makan, minum, saksikan, lakukan dan impikan.
Para pakar melihat bahwa realitas dibangun di dalam budaya popular, dan di waktu yang sama budaya popular dianggap sebagai realitas. Budaya popular bukan hanya mengenai orang-orang, bahasa, fashion, atau bahkan kebutuhan hidup. Budaya popular adalah akar dari nilai-nilai komersial. Budaya popular menanggung beban dari sesuatu yang secara komersial memiliki nilai untuk diproduksi. Sebagai hasilnya, budaya popular mengidentifikasikan masyarakat sebagai sebuah kesatuan. Dan ini ideologis. Artinya budaya popular mengidentifikasikan seseorang menjadi bagian dari masyarakat popular atau tidak. Derivasinya, budaya popular menetapkan standarisasi dan mengasosiasikan sikap atau tingkah laku sebagai yang “normal” atau yang “menyimpang” menurut perspektifnya. Mereka yang turut dalam lokomotif budaya popular akan dianggap “normal”, sebaliknya yang tidak mengikuti budaya popular atau bahkan menentangnya akan dianggap “menyimpang”.

Pendahuluan
Budaya popular sering diartikan sebagai budaya massa, yakni budaya yang dianut oleh kebanyakan orang. Jika sebagian besar orang dalam sebuah masyarakat meminum coca cola, maka itu budaya popular. Dan ketika budaya popular bersentuhan dengan industri, pada perkembangannya budaya popular bergerak menjadi budaya komersial.
Dalam Ensiklopedia Encarta, budaya popular diartikan sebagai values that come from advertising or entertainment in industry, the media and icons of style and are targeted to the ordinary people in society
.
Dari definisi tersebut terdapat dua kata kunci penting, yakni masyarakat kebanyakan dan industri. Dikatakan budaya popular jika segala realitas yang tampil atau ditampilkan menyentuh, mewakili, dilihat atau mendapat penerimaan (common acceptance) dari sebagian besar masyarakat. Karena bersifat massal, maka peran industri, dalam hal ini industri media, memegang peran strategis. Tanpa media, realitas tidak akan menjadi budaya popular karena tidak ada yang menyebarkannya secara massif. Ini mirip dengan definisi Storey yang menyatakan bahwa budaya popular adalah budaya yang diproduksi secara massal oleh industri.

Dapat disimpulkan bahwa budaya popular terkait erat dengan faktor ekonomi melalu industri media. Media mempengaruhi terbentuknya budaya popular dengan menembus budaya masyarakat melalui kehidupan sehari-hari. Asumsi ini dapat dilihat dasar teoritisnya melalui pendapat Habermas dalam The Structural Transformation of the Public Sphere.

Menurut Habermas, pasca-abad ke-19 ruang demokratisasi tumbuh seiring percepatan pertumbuhan daerah urban baru, mal-mal, arus deras media elektronik dan konsumerisme; publik mengalami transformasi politik lewat konsumsi pencitraan dan informasi dari media elektronik dalam masyarakat industri, yang lintas kelas dan lintas pendidikan.

Pendapat yang sama disampaikan oleh Douglass Kellner dalam Television and the Crisis Democracy. Menurut Kellner, pegas utama era industri budaya adalah pertumbuhan multikanal televisi sebagai anak emas teknologi kapitalis. Era budaya populer lewat televisi ini melahirkan karakteristik khusus, yakni hiburan populer, ideologi, ekonomi, politik, dan kerja institusi sosial serta negara, yang secara alamiah dan fungsional bekerja membaur dan saling menghidupi di layar televisi.

Karakteristik khusus itu muncul dalam aneka bentuk program dan iklan yang masuk secara sistematis ke dalam ruang keluarga. Program ini dikelola lewat perhitungan waktu, rating dan segmen potensial, berdasar perhitungan rumit demografi dengan akurasi latar pendidikan, ekonomi, dan pola konsumsinya.

Budaya popular mengandaikan adanya komodifikasi gaya hidup tertentu. Ekspresi kebudayaan yang dimunculkan melalui budaya popular ini diinternalisasi para penikmatnya di berbagai kalangan sebagai kecenderungan baru dari gaya hidup yang popular. Kondisi yang demikian tidak aneh jika mampu membuat insan-insan yang menjadi pelaku dalam aktivitas kebudayaan popular tersebut lebih dikenal oleh masyarakat secara luas daripada pegiat aktivitas yang lain, seperti aktivitas pendidikan.

Prita Mulyasari dan Fenomena Budaya Popular: Contoh Kasus
Sebelumnya, tidak banyak yang tahu tentang siapa Prita Mulyasari sebelumnya. Namun setelah kritiknya terhadap rumah sakit Omni Internasional Tangerang, nama Prita banyak menghiasi media massa, dan publik mulai banyak tahu tentang Prita.

Prita adalah seorang pasien regular yang berseteru dengan pihak rumah sakit Omni Internasional. Perseteruan dimulai ketika Prita, karena merasa tidak puas dan kecewa dengan pelayanan rumah sakit Omni Internasional, melayangkan kritik pribadi melalui surat elektronik (e-mail). Dalam kritiknya itu Prita menyatakan dengan tegas bahwa pelayanan rumah sakit Omni tidak profesional dan ada indikasi membahayakan keselamatan pasien.

Kritik yang semula hanya ditujukan kepada rekan-rekannya, tersebar lewat milis lalu diangkat ke surat pembaca sebuah media. Berkembanglahlah kasus ini menjadi besar. Pihak rumah sakit Omni yang tidak terima dengan pernyataan atau keluhan Prita, menggugat ibu dari dua anak ini sebagai pihak yang telah melakukan pencemaran nama baik dan melaporkan kasusnya ke pihak kepolisian. Prita kemudian terjerat Pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dan Pasal 27 ayat 3 UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Setelah dibuktikan bersalah oleh Pengadilan Negeri Tangerang, Prita dijebloskan ke dalam Rumah Tahanan Wanita, Tangerang. Prita ditahan pada 13 Mei 2009.

Uniknya, tidak lama setelah media ikut berperan memberitakan kasus Prita, kasus ini berbalik menyerang rumah sakit Omni Internasional. Setiap hari pemberitaan mengenai kasus ini muncul di televisi, koran, radio, dan internet. Sebagian menjadi headline. Tingginya intensitas pemberitaan kasus Prita dengan cepat membentuk opini publik. Ditambah, pemberitaan yang disampaikan media sangat jelas memihak kepada Prita.

Simpati yang diberikan oleh calon Presiden Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri serta beberapa pihak penting lain, belum lagi banyaknya pengacara kenamaan yang berpihak pada Prita, yang tentu saja diekspos oleh media, menjadi katalisator munculnya opini bahwa Prita tidak bersalah bahkan menjadi pihak yang dirugikan.

Kejadian luar biasa kemudian muncul; status Prita langsung berubah dari tahanan lapas menjadi tahanan kota pada hari yang sama ketika media mengekspos simpati Jusuf Kalla dan Megawati. Dan pada tanggal 3 Juni 2009 Prita dinyatakan bebas.

Kejadian luar biasa lainnya adalah, beberapa pihak dari aparat penegak hukum menyatakan bahwa telah terjadi kesalahan dalam proses hukum Prita Mulyasari. Karena itu mereka beralasan Prita memang harus dibebaskan. Realitas aparat penegak hukum ini sangat kurang wajar di Indonesia. Beberapa pihak curiga bahwa telah terjadi “sesuatu” di belakang kasus ditahannya Prita.

Dengan cepat masyarakat merespon kasus ini sejak Prita digugat, ditahan dan bebas. Sebagian besar masyarakat yang mengikuti kasus ini memberikan dukungan kepada Prita dan sedikitnya menggugat proses hukum yang menangani kasus ini sebagai hal yang tendensius. Begitu besarnya perhatian masyarakat memunculkan pertanyaan, bagaimana kasus ini bisa sedemikian hebat dalam membentuk opini publik?

Tidak terlalu simplistis jika dijawab bahwa medialah yang telah membesarkan kasus ini. Media juga yang telah membentuk opini sedemikian besar. Bahkan media juga yang telah membebaskan Prita dari jerat hukum. Namun apa kepentingan media?
Pada kasus ini dapat dikatakan bahwa media berperan sangat besar dalam menggunakan kepentingan ideologisnya. Kepentingan ideologis media yang pertama adalah, media ingin terus mengawal tegaknya demokrasi yang salah satunya adalah menjunjung tinggi kebebasan menyampaikan pendapat dan informasi.

Media menganggap, sebagaimana yang sangat jelas dilakukan oleh Metro TV dan TV One selama kasus berjalan, apa yang dilakukan Prita bukanlah sebuah tindak pencemaran nama baik, melainkan sebuah “curhat” (curahan hati) pribadi yang mengeluhkan pelayan rumah sakit Omni Internasional dan menganggap pelayan tersebut tidak profesional. Hal ini sangat wajar dilakukan oleh Prita sesuai dengan konteks “keluhan konsumen”. Dalam Undang-Undang Konsumen, konsumen berhak melayangkan keluhannya kepada pihak produsen, distributor atau penjual jika barang atau pelayanan yang diterimanya tidak baik. Jika pihak-pihak tersebut tidak memberi respon, konsumen mempunyai hak untuk menyampaikannya ke pihak lain.

Jika keluhan ini, yang pada hakikatnya merupakan hak konsumen, dihadapkan pada kasus pencemaran nama baik, dalam perspektif media, tentu akan membahayakan kebebasan mengeluarkan pendapat dan menyampaikan informasi. Lebih jauh, akan membahayakan demokrasi itu sendiri. Tentu secara spesifik, dapat pula membahayakan kebebasan pers. Apalagi ketika kasus ini bersinggungan dengan Undang-Undang Informasi dan Transasksi Elektronik (UU ITE). Sejak munculnya UU ITE, media memang telah mempertanyakan UU tersebut sehubungan dengan kebebasan mengeluarkan pendapat dan menyampaikan informasi, terutama terhadap pasal 27 UU ITE mengenai pencemaran nama baik.

Kepentingan ideologis kedua adalah, kasus yang dianggap sebagai bagian dari kepentingan masyarakat, terutama kepentingan akan kebebasan mengeluarkan pendapat, merupakan kasus yang bisa mendapat perhatian besar. Ini artinya media akan mendapatkan public acceptance pada kasus ini. Hubungannya, media akan memperoleh profit yang juga besar dari penayangan kasusnya. Lagi-lagi ini merupakan ideologi dasar media sebagai sebuah industri, yakni apa yang laku terjual dan memiliki nilai-nilai komersial maka akan ditampilkan.
Tidak disangsikan lagi kasus Prita merupakan salah satu dari apa yang disebut dengan budaya popular. Budaya popular dalam kasus ini adalah soal penegakan demokrasi. Demokrasi telah menjadi cita-cita sebagian besar masyarakat. Kebebasan mengemukakan pendapat dan menyampaikan informasi merupakan salah satu bagian dari demokrasi. Dengan demikian, menayangkan atau menampilkan kasus Prita tentu akan mendatangkan perhatian yang besar dari masyarakat. Bukankah substansi budaya popular adalah terakomodirnya perspektif umum yang menjadi mainstream suatu masyarakat?

Jika budaya popular dihubungkan dengan pendapat Habermas atau John Storey mengenai media sebagai industri yang sebagian besar bertujuan mencari profit, maka kasus Prita yang telah mendatangkan perhatian yang besar dari masyarakat juga sangat tepat. Pada kasus ini, media telah mendapatkan keuntungan ekonomisnya.

Dalam konteks media, kasus Prita mendatangkan dua keuntungan bagi media; diteruskannya kebebasan mengemukakan pendapat dan menyampaikan informasi (kebebasan pers) dalam rangka demokrasi dan keuntungan ekonomis karena public acceptance yang besar.

Budaya popular adalah asuhan tangan ideologis media. Budaya popular pada akhirnya adalah juga sebuah budaya yang didefinisikan sedemikian rupa oleh media untuk menterjemahkan apakah sesuatu layak diproduksi, dijual dan apakah memberikan keuntungan secara materil. Nilai-nilai komersial merupakan fondasi penting budaya popular. Dan Prita, menjadi salah satu yang telah dibesarkan dalam kultur popular itu.

Referensi
http://www.andswork.com 13 Mei 2009
http://en.wikipedia.org/wiki/Popular_culture 3 Juli 2009
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0403/04/opini/892106.htm 29 Juni 2009
http://berita.liputan6.com/hukrim/200906/234807/Prita.Mulyasari.Bebas 3 Juli 2009
http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2009/06/25/fks,20090625-688,id.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: