Robbymilana's Blog

Apa yang Anda lihat, belum tentu demikian adanya.

Belajar Berkawan dari Dale Carnegie

Posted by robbymilana on April 15, 2010

Seorang kawan mengatakan pada saya bahwa hidup merupakan proses terus menerus. Itu artinya, ga ada hal yg sempurna atau “menjadi” sempurna dalam hidup. Semua selalu setengah matang. Karena itulah hidup selalu menuntut kita utk terus belajar dan berkembang. Begitupun dalam berkawan. Hubungan yang akan atau sedang kita jalin dengan orang lain juga merupakan proses yg terus menerus. Dan proses itu memerlukan strategi.

Ingat punya ingat, ucapan kawan saya itu mirip dengan sari pati konsep “berkawan” milik Dale Carnegie. Meski agak “liberal” konsep berkawan milik Dale sangat patut dipertimbangkan. Dalam bukunya “How to Win Friends and Influence People”, Dale mengemukakan beberapa prinsip penting dalam berkawan:

1. JANGAN PERNAH MENYALAHKAN ORANG LAIN
Ada seorang murid dengan bangga menjawab pertanyaan dari gurunya, tapi dia menjawab dengan salah. Tidak tanggung2 gurunya itu langsung mengeluarkan caci maki dan cemoohan yang panjang. Intinya, si murid dianggap manusia paling bodoh di kolong langit oleh gurunya. Apa reaksi si murid? Sejak saat itu dia tidak pernah lagi menyukai guru sekaligus mata pelajaran yang diajarkan gurunya itu. Meskipun dia memang bodoh, namun ketika disalahkan sebagai orang bodoh, dia tdk akan terima. Ini contoh kecil yg umum terjadi di dunia sekolah kita.

Ada contoh lain:
Suatu ketika seorang pemuda perlente sedang berkendara dengan mobil mewahnya di jalan besar Chicago. Tiba2 dia diberhentikan oleh seorang polisi. Lalu polisi itu meminta SIM dan STNK nya. Pemuda tadi tdk pernah mengeluarkan SIM dan STNK; tp dia mengeluarkan sebilah pistol dan menembakkannya ke dada polisi dengan bengis. Pemuda itu Al-Capone, musuh masyarakat, pemimpin gang besar di Chicago. Saat tertangkap, dia berkata, “Inikah yang saya peroleh karena membela diri? Saya sudah melewatkan tahun2 dalam hidup saya dengan memberi orang lain kesenangan. Namun yg saya peroleh adalah perlakuan kejam dan terus diburu!”

Bayangkan, seorang Al-Capone pun merasa sbg orang yg tidak bersalah, walau dia merupakan seorang musuh masyarakat!

Manusia cenderung menolak utk dipersalahkan. Ini sifat dasar manusia. Hampir setiap manusia (bahkan mungkin semua manusia) akan bersikap defensif jika disalahkan dan akan menyerang balik dengan menyalahkan kembali.

Jika AL-Capone, musuh masyarakat, saja tidak mau disalahkan, bagaimana dengan orang2 di dalam hidup kita? Tentu mereka jauh lebih baik dibanding Al-Capone. Tp ingatlah, betapa sering kita menyalahkan mereka.

Jika kita mempunyai sedikit kawan dalam hidup ini, itu artinya kita tipe orang yang selalu menyalahkan orang lain. Ada kawan yg sedang diam, kita langsung menyalahkannya. Padahal dia sedang sakit gigi. Ada kawan yg tampak cemberut, kita juga menyalahkannya. Padahal dia sedang mules dan kebelet menahan buang air.

Ternyata sifat menyalahkan orang lain menjadi prinsip pertama yg harus dibuang menurut Dale Carnegie jika kita ingin mempunyai banyak kawan dan berkawan baik.

Socrates pernah menyatakan, “Saya hanya tahu satu hal, yaitu saya tidak tahu apapun.” Yakinlah bahwa kita tidak lebih cerdas daripada Socrates. Karena itu wajar jika sedikit demi sedikit kita mulai berhenti menyalahkan orang lain. “Kita belum tentu benar”…itu prinsipnya.

2. BERSEDIA MENJADI PENDENGAR YG BAIK
Seorang agen minuman dingin berkali2 ditolak oleh sebuah swalayan besar utk memasukan produk minumannya. Rupanya ada yg salah dalam pengajuan proposalnya kpd si manager swalayan. Lalu dia ubah caranya. Saat bertemu utk yg kesekian kali, sekali ini si agen tdk mau berbicara bisnis. Dia ingin berbicara tentang Afrika, sebuah negara yg sangat disukai oleh si manager.

Agen: Sudah empat kali saya masuk ruangan ini, namun saya baru meperhatikan foto2 di seluruh ruangan ini. Foto2 yg eksotis. Saya menduga ini pasti Afrika.
Manager: (Tersenyum) Benar. Apa Anda sudah pernah kesana?
Agen: Belum. Tapi saya sangat ingin bisa pergi kesana. Saya sering mendengar cerita menarik tentang Afrika. Anda beruntung sekali pernah berkunjung kesana. Saya iri pada Anda. Ceritakanlah pada saya tentang Afrika!
Manager: (Bercerita selama 40 menit dengan antusias)

Jika sebelumnya si manager hanya bersedia menerima si agen 5 menit, kini tanpa terasa dia berbicara selama 40 menit. Dan si agen hanya mendengarkan saja semua ceritanya dengan sikap tertarik.

Ketika hendak pamit, si manager menandatangani kotrak dan sekaligus memberikan selembar tiket perjalanan ke Afrika pada agen tadi. Lihatlah betapa hebatnya kekuatan mendengarkan!

Banyak orang senang didengarkan. Namun kadang kita tdk dapat menahan diri utk lebih senang berbicara dibanding mendengarkan. Padahal, dengan mendengarkan kita telah “membeli” hati orang lain. Dia merasa sangat dihargai, diberi kekuasaan dan merasa dipentingkan. Dan Dale mengatakan, “Utk menjadi pembicara yg baik, Anda harus menjadi pendengar yg baik.” Hmmm…Masuk akal.

3. MELIHAT SESUATU DARI SUDUT PANDANG ORANG LAIN
Ingatlah…orang lain bisa saja mutlak salah, namun mereka tidak menduga begitu. Mari coba mengerti mereka melalui sudut pandang mereka.

Andi selalu mengatakan bahwa pacarnya terlalu banyak menghabiskan waktu berpacaran mereka dengan berkebun. Setiap malam minggu dia datang, pacarnya lebih senang menunjukan, berbicara dan merapihkan kebun bunganya. Andi mengatakan, bahwa setiap hari pacarnya menghias kebun itu, tapi kebun itu tdk tampak lebih indah dari setahun lalu. Betapa sedih hati pacarnya. Dan setiap kali Andi mengucapkan hal itu, maka malam minggunya menjadi rusak.

Suatu kali Andi introspeksi diri dan mulai mau mencoba melihat hal tersebut dari sudut pandang pacarnya. Ketika malam minggu dia datang, pacarnya mengajak dia melihat bunga yg baru saja dia beli. Sekali ini Andi menurut. Lalu berdua mereka melihat kebun bunga itu dan Andi mulai ikut menyemprot bunga2 yang ada. Batapa senang pacarnya. Kemudian mereka mengobrol di kebun selama ber-jam2, dan sangat menyenangkan. Sejak saat itu hubungan mereka menjadi semakin hangat, dan kebun bunga menjadi lebih indah.

Apa yg menurut kita baik, belum tentu baik menurut orang lain. Mari kita lihat hal-hal menarik dari sudut pandang orang lain dan kita akan mendapatkan dua hal: (1) hubungan yg baik dan (2) wawasan yg baru.

4. BIARKAN ORANG LAIN MENYELAMATKAN MUKANYA
Pada sebuah rapat penting di sebuah perusahaan, seorang sekretaris datang terlambat. Padahal data2 penting utk rapat itu dia yg pegang. Dia seorang perempuan yg sebelum berangkat ke bekerja selalu mengurus anak2nya terlebih dahulu. Sehingga dia memang seringkali terlambat. Ketika hendak memasuki pintu ruangan, betapa dadanya bergemuruh karena takut. Dia sudah membayangkan akan mendapat marah besar dari bos-nya saat memasuki pintu itu. Namun dia masuk juga. Saat dia masuk, dilihatnya bos-nya duduk di kursi utama, dan beberapa kepala direksi di kursi sisi. Smeua langsung memandang ke arahnya. Tp ketika melihatnya datang, si bos langsung tersenyum dan menyapanya dengan hangat. Apa yg dia takutkan ternyata tdk terjadi. Bos-nya telah menyelamatkan mukanya. Toh, walau terlambat, rapat tetap berjalan dengan baik. Dan satu hal lagi: si sekretaris mengerjakan semua pekerjaannya dua kali lipat lebih bagus dibanding biasanya setelah kejadian itu. Ini dilakukan utk membayar kesalahannya sendiri.

5. MEMPERTAHANKAN PRINSIP TANPA HARUS MEMAKSA ORANG LAIN
Seorang Kyai besar mengatakan bahwa dia sangat membenci politik. Dan dia meminta jamaahnya utk tidak terlibat ke dalam dunia politik praktis. Seorang jamaah bertanya, “Jika tidak ada perwakilan kita yg terjun ke dalam politik, lalu bagaimana kita dapat mempengaruhi pembuatan kebijakan dan meningkatkan posisi tawar kita? Atas dasar apa politik itu haram?” Dengan serta merta sang Kyai mengatakan, “Pokoknya politik itu haram. Dan saya melarang kalian terlibat di dalamnya! Jika ada yg terlibat, silahkan keluar dari jamaah ini.”

Kyai ini memaksakan prinsipnya kepada orang lain. Padahal, prinsipnya itu mungkin berbeda dengan prinsip orang lain. Seharusnya dia bisa menjadi lebih bijak dengan tidak memaksakan orang lain utk mengikuti prinsipnya. Mempunyai prinsip itu bagus. Namun akan menjadi tercela jika prinsip itu dipaksakan utk dilaksanakan oleh orang lain.

Semua hal di atas menjadi bahan renungan saya pribadi. Saya bagi2 dengan harapan dapat bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: